CAHAYANUSANTARA.ID Masyarakat khususnya pelanggan PT PLN ULP Baturaja, mengeluhkan seringnya listrik padam dan tegangan tidak stabil atau spanning yang kerap terjadi dalam beberapa bulan terakhir.
Dalam sehari bahkan hitungan jam, bisa terjadi pemadaman berulang dua sampai empat kali. Setelah menyala, terjadi spanning atau tegangan tidak stabil. Kondisi lampu redup lalu mendadak terang, membuat bola lampu sering putus.
“Saya bingung mengapa listrik di OKU khususnya dalam Kota Baturaja, setiap hari selalu ada pemadaman. Kalau tidak padam, tegangannya rendah. Kalau begini terus barang elektronik bisa rusak, ini saja saya sudah berapa kali ganti lampu putus,” ungkap IRT bernama, Yuli (38), warga Desa Tanjung Baru, Kecamatan Baturaja Timur.
Dia berharap pihak PLN Baturaja dapat secepatnya menyelesaikan permasalahan ini, agar pelanggan tidak merasa dirugikan dan puas dengan pelayanan PLN.
“Jujur sebagai pelanggan, saya merasa dirugikan. Kita kan bayar untuk bisa menikmati listrik, seharusnya PLN memberikan pelayanan yang bagus. Kalau kondisinya seperti ini, artinya pelayanan PLN Baturaja belum baik,” kritiknya dengan tegas.
“Iya, sekarang listrik sering mati, hidup, mati dan hidup. Apa lagi kalau hujan, pasti mati lampu,” timpal pria lansia yang disapa Pakde oleh warga setempat.
Terkait keluhan permasalahan ini, Manager PLN ULP Baturaja, Fahmi Romadhona didampingi Tl Teknik, M Alkodar menjelaskan, penyebab listrik sering padam dan spanning karena terjadi sekering putus di salah satu gardu yang berada di jalur percabangan.
“Penyebab sekering sering putus karena tertimpa dahan pohon atau hewan seperti tupai, monyet dan ular. Sehingga saat selesai diperbaiki dan listrik menyala, tegangannya tidak stabil karena pendistribusian aliran listriknya di jalur percabangan dan butuh proses agar bisa normal,” jelas Fahmi saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (29/9/2025).
Ia mengaku, sudah melakukan upaya antisipasi dengan rutin melakukan tebas bayang hingga penebangan pohon yang berpotensi menyebabkan gangguan terhadap jaringan listrik.
Namun, kata Fahmi, pihaknya sering terkendala izin dari warga pemilik lahan. Meski sudah ada pendampingan dari aparat penegak hukum dan Kepala Desa atau tokoh masyarakat setempat.
“Kita sudah berupaya dengan melakukan penebangan pohon yang berada di dekat kabel jaringan dan menjadi penyebab listrik sering padam. Tapi tidak semua pemilik lahan setuju, ada juga yang tidak mengizinkan tanam tumbuh atau pohon miliknya ditebang. Kalau hanya dipangkas, permasalahannya (listrik padam) bisa berulang,” ungkapnya.
Fahmi menyimpulkan, bahwa penyebab seringnya terjadi pemadaman listrik di wilayah OKU, 80 persen karena pohon dan 20 persen karena material PLN. Sebab, sebagian besar wilayah OKU masih banyak hutan dan perkebunan warga.
“Memang tidak bisa dipastikan listrik akan normal setelah dilakukan penebangan pohon dan tebas bayang, tapi setidaknya sebagai upaya antisipasi untuk mengurangi terjadinya gangguan seperti pemadaman. Meski masih menemui kendala di lapangan, kita tetap rutin melakukan pembersihan jaringan dengan melibatkan instansi lain seperti DLH dan Perkim,” ujarnya. (Erham)







